Sabtu, 28 Juni 2014

PERADABAN BESAR BERAWAL DARI KUALITAS PENDIDIKAN

Setelah beberapa hari menimba ilmu dari Ponorogo, sempatkan diri jadi bagpacker di kota jogja untuk beberapa hari. eeeh mampir di bioskop sebentar buat nonton film terbaru katanya. Judulnya mantap menurut awak; yaitu  99 cahaya di langit Eropa..Subhanallah, sempat menetes air mata menonton film ini, berkecamuk perasaan ini, ada kebanggan tersendiri sebagai seorang muslim dan salut akan perjuangan orang2 terdahulu dengan hasil karyanya di tanah Eropa.
Selain itu, hikmahnya semakin bertambah kuat keimanan awak pada jalan-Mu ya Allah..
Menakjubkan, film ini juga menceritakan tentang perjuangan hidup seorang muslim di negeri Eropa, dengan tetap mempertahankan identitas keislamannya, bersama anaknya sanggup bertahan dengan keyakinannya, keimanan yg harus apresiasikan dalam amal perbuatan nyata. salut, be proud a muslem!

Film ini cocok ditonton oleh orang2 yg masih malu dan minder dengan identitas keislamannya, kadang mau membuka atau melepaskan simbol2 keislamannya. Menonton film ini serasa ikut mengembara langsung ke Eropa (Wina - Paris - Codoba - Granada – Istanbul) dan sekaligus belajar sejarah Islam di Eropa yang begitu membanggakan dan mengharukan.
Mengajak kita untuk mengamalkan Islam secara total melalui perilaku yang mencerminkan Islam, lewat contoh tokoh yang bernama Fatma. Peradaban yang besar yang ditinggalkan Pendahulu Muslim dulu karena berhasil menanamkan pendidikan agama yang baik. Persis seperti Sabda Nabi SAW; makin tinggi berilmu seseorang semakin dekat dengan Tuhannya, bukan malah sebaliknya. 
Peninggalan Peradaban Endatu Aceh, benteng Iskandar Muda
Tetapi sayangnya, kita prihatin melihat sebagian orang2 Islam Indonesia yang tinggal atau berada di luar negeri, notabene sudah mengenal / belajar Islam sejak lahir bahkan nenek moyang orangtuanya muslim tulen. Tetapi merasa malu dan minder dengan identitas keislamannya bahkan rela meninggalkan symbol identitas keislamannya demi alasan agar mudah berbaur, beginilah wajah muslim pemunafik, anak macam ini diharapakn mendidik generasi muda Islam ? ooh nooo..
Kini banyak kaum Eropa yang terbuka matahatinya melihat kebesaran dan kebenaran Islam, maka itulah sebabnya maka setiap tahun bertambah jumlah muslim di bumi Eropa. Namun, sebaliknya di Indonesia yang sudah Islam secara turun temurun malah sudah mulai meninggal nilai-2 Islam, salah satu efek perang pemikiran (ghazwul fikri). Alangkah sedihnya jika kita lihat sebagian Muslim kalau sudah hidup di negeri Barat seolah-olah sudah bukan Islam lagi dia, wah hebat ngaku pandai tapi berani melanggar hukum Tuhan dia, seperti itukah dikatakan orang baik dan pandai?…masya Allah.

Saya ingat pesan guru saya, dalam hidup ini jadilah seperti ikan walaupun hidup di lautan yg asin tetapi dagingnya tetap tawar, karena dia hidup, kalo mati baru ia menjadi ikan asin.
Jadi, jaga prinsip2 dan nilai Islam yang telah ditanamkan di manapun kamu berada, di bumi manapun kaki berbijak, disitu Islam dijunjung…
Islam mempersilahkan kita untuk merantau ke negeri jauh tetapi aqidah dan nilai Islam tetap dijaga.
Belajarlah pada kisah sahabat Amar bin Yasir, Bilal bin Rabah, dan Sumayyah umma Ammar dalam mempertahankan aqidahnya.

Saya juga teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.” (Ali bin Abi Thalib RA)

Sobat, bek bacut2 ka neujak nanggro gob, ka tuwoe dengan adat dan identitas bangsa dro..
sebuah catatn kecil; 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar